HOT INFO!. DOWNLOAD INFORMASI PENERIMAAN CPNS KALBAR DAN KOTA PONTIANAK TAHUN 2009. Sekedar berbagi informasi buat sahabat yang sedang mencari pekerjaan dlingkungan pemerintahan. alias menjadi PNS. Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Kota Pontianak membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi CPNS Tahun Anggaran 2009. Pengiriman berkas lamaran dimulai tanggal 2 Nopember 2009 sampai tanggal 16 Nopember 2009. Batas usia minimal yang ditentukan adalah 18 tahun dan maksimal 40 tahun dan kualifikasi pendidikan mulai dari SLTA, Dipolma III dan S1 dari berbagai disipilin ilmu. Untuk mendownload informasi lengkap penerimaan CPNS Pemprop. Kalbar silahkan klik DI SINI. Sedangkan untuk mendownload pengumuman lengkap penerimaan CPNS Pemerintah Kota Pontianak silahkan klik DI SINI dan formasinya DI SINI Untuk membuka file tersebut gunakan Adobe Reader yang bisa anda download DI SINI. Informasi ini saya share dari situs resmi kalbar.go.id. Silahkan dicoba dan semoga bermanfaat! Salam!

GAMBAR FOTO SETIANTI DWI RETNO : MODEL PANAS ?

Setianti Dwi Retno, korban pembunuhan  di apartemen Mediterania Jakarta Barat pada Senin (9/11/2009) kabarnya adalah seorang model. Gadis berusia 24 tahun ini dikatakan adalah alumni alumni SMA 28 dan sekarang masih kuliah di STAN semester akhir. Yang unik walaupun berprofesi sebagai model nyaris tak ada foto Tia yang nampang di internet selain fotonya di friendster. Biasanya jika benar Tia adalah model panas yang pernah bearpose di majalah Popular dan X2 tak akan sulit mencarinya di dunia maya.


Baca juga artikel ini :


Baca Selengkapnya

DOWNLOAD MOZILLA FIREFOX TERBARU VERSI 3.5.5

Update informasi browser Mozilla Firefox. Saat ini sudah tersedia Mozilla Firefox versi terbaru yaitu versi 3.5.5. Kelabihan update terbaru ini adalah adanya  Perangkat tambahan untuk Firefox yang sebaik mungkin memberikan pengalaman browsing di Web. Bar baru yang dikenal sebagai "Awesome Bar,"

Kinerja. Firefox dibangun di atas platform Gecko baru yang kuat, sehingga lebih aman, lebih mudah digunakan dan produk yang lebih pribadi.

Keamanan. Firefox bar untuk meningkatkan keamanan perlindungan malware dan phising membantu melindungi dari virus, worm, trojan dan spyware untuk menjaga orang-orang yang aman di Web. Untuk mendownload silahkan klik DI SINI

Baca juga artikel ini :


Baca Selengkapnya

PROFIL KOMBES POL WILIARDI WIZAR : PRESTASI TERSANDUNG KASUS

Pengakuan mengejutkan Wiliardi Wizar terkait kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Narsrudin. Bola panas itupun bergerak liar. Sejumlah nama petinggi Polri mencuat. Siapa sebenarnya Wiliardi Wizar. Berikut profilnya yang diambil dari berbagai sumber.

Wiliardi Wizar lahir di Sibolga, Sumatra Utara 22 Maret 1960. Pria lulusan Akabri tahun 1984 ini, pernah menjabat kapolres 3 kali. Masing-masing Kapolres Kupang, NTT (2001), Kapolres Tangerang Banten (2002) dan Kapolres Jakarta Selatan (2005-2007). Jabatan terakhir ketika kasus ini bergulir adalah Kasubdit Pariwisata Ditpam Obsus Babinkam Mabes Polri.

Sama seperti Antasari, ia pun seorang penegak hukum, yang kali ini harus berhadapan dengan masalah hukum yang begitu besar. Pembunuhan berencana! Sebagai seorang perwira polisi, Willy adalah kader yang berprestasi. Jika saja ia tak tersandung kasus ini, pada bulan Juli nanti jabatan direktur di Mabes Polri sudah menantinya. Setelah tamat menempuh pendidikan di Sekolah Staf Perwira Tinggi Mabes Polri akhir tahun lalu, ia segera menyandang pangkat brigadir jenderal untuk jabatan tadi.

Karier manis Willy ini terus memuncak setelah keberhasilannya mengungkap pabrik pembuat pil ekstasi terbesar di Indonesia, bulan April 2002. Kala itu, ia menjabat sebagai Kapolres Metro Tangerang, tempat pabrik itu berlokasi.

Di mata anak buah Wiliardi dikenal sebagai pemimpin yang baik. “Waktu Pak Willy bertugas di sini, dia menjabat dengan baik dan memerhatikan para bawahannya. Tidak pernah ada pemotongan insentif lagi, biasanya pada pimpinan sebelumnya ada saja pemotongan dari insentif yang turun,” kata Ridho (nama samaran), seorang perwira yang kini masih bertugas di Polres Jaksel.

Selain itu, Willy juga tidak pandang bulu dalam bergaul. Mulai dari para perwira sampai polisi yang pangkatnya masih rendah pasti di-”rangkul” olehnya. “Pak Willy baik dengan bawahannya, pernah waktu itu kami semua makan nasi bungkus bersama-sama, Pak Willy pun ikut gabung, dia enggak ngerasa risih,” kenang Ridho.

Kepada Kompas.com, Ridho juga menuturkan, saat menjabat, Willy memberikan banyak kelonggaran kepada jajarannya. Ia memberikan contoh kecil, pintu di dekat pelayanan SIM biasanya tertutup dan tidak boleh dilewati oleh siapa pun. Namun, pada saat Willy menjabat, pintu tersebut dibuka sehingga pelayanan bagi warga lebih mudah.

Tak hanya itu, Willy juga tidak pernah melakukan intervensi kepada bawahannya. Ia lebih menekankan pada pelayanan masyarakat. Saat apel pagi pun Willy tidak pernah berlama-lama memberikan arahan kepada bawahannya. “Jika pemimpin lain bisa melakukan apel itu paling tidak setengah jam, kalau Pak Willy paling lama hanya 15 menit. Apelnya pun tidak setiap hari, seminggu tiga kali saja,” ujar Ridho lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Panji (juga nama samaran) semasa menjabat Willy memang dekat dengan bawahannya. “Hubungan Pak Willy dan bawahan, seperti anak bapak,” ujar Kasat salah satu bagian di Polres Jaksel ini.

Namun, lain halnya dengan pendapat wartawan. Wiliardy dikenal sebagai sosok yang tertutup, ia hanya muncul pada kasus yang besar. Ia terakhir berbicara pada saat terjadi kasus pembunuhan dua anggota ormas kedaerahan yang terjadi di Kebayoran. Kasus-kasus lain biasanya akan dia lempar pada Helmi Santika, Kasat Reskrim pada waktu itu.

Nah, kini bersama delapan tersangka lain, Wiliardi Wizar ditangkap untuk kasus pembunuhan berencana, yang bukan lagi menjadi istilah baru bagi Willy. Akankah ini menjadi akhir perjalanan karier perwira ini? Atau kursi direktur di Mabes Polri tetap terbuka baginya?

Setidaknya, Kepala Divisi Humas (Kadiv Humas) Mabes Polri Irjen Abubakar Nataprawira masih mengatakan bahwa nasib koleganya ini baru akan ditetapkan jika sudah ada putusan pengadilan.

Baca juga artikel ini :


Baca Selengkapnya

DOWNLOAD UNDANG-UNDANG NARKOTIKA TERBARU (NOMOR 35 TAHUN 2009) TENTANG NARKOTIKA

Menanggapi beberapa permintaan sahabat agar blog ini yang memuat download Undang-undang tentang Narkotika Nomor 35 tahun 2009. Undang-undang ini telah disahkan, dengan adanya undang-undang ini akan memperkuat kelembagaan Badan Narkotika Nasional sebagai landing sector.

Nantinya presiden juga akan mengeluarkan peraturan tentang kelembagaan BNN. Sebagai informasi juga berdasarkan undang-undang ini Badan Narkotika Propinsi akan menjadi instansi vertikal bernama Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) demikian juga Badan Narkotika Nasional Kota dan Kabupaten. Untuk mendownload undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika silahkan klik DI SINI. Semoga bermanfaat! Salam!

Baca juga artikel ini :


Baca Selengkapnya

HARI PAHLAWAN : SISI LAIN KISAH KEPAHLAWANAN 10 NOPEMBER 1945


Sebenarnya tulisan ini sudah dimuat di media cetak naungan Jawa Pos Group. Bahkan banyak blogger juga sudah mengcopy paste catatan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group tersebut.Walau catatatn berjudul "Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya." ini mendapat reaski kurang bersahabat dari beberapa pihak, namun menurut saya catatan ini membuka wahana berpikir saya tentang ketokohan Bung Tomo. Kita semua pasti hafal gambar "heroik" Bung Tomo yang ada di buku-buku sejarah.

Adalah Soemarsono seorang tokoh PKI Illegal, dalam memimpin koalisi pasukan pemoeda di Soerabaja pada tahun 1945. Menurut Dahlan Iskan, Soemarsono adalah Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya yang mengetahui persis kisah kepahlawanan 10 Nopember 1945.

Berikut isi tulisan Dahlan Iskan :

Dahlan Iskan: Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (1)
Selamatkan Bung Tomo dari Amuk Pemuda

SAYA tidak menyangka kalau tokoh ini masih hidup. Bahkan, masih segar bugar. Dia lahir pada 22 September 1921 yang berarti kini sudah berusia 88 tahun. Bicaranya masih sangat bersemangat dan ingatannya masih luar biasa tajam.

Dia tidak pernah diwawancarai wartawan, setidaknya karena dua hal. Pertama, selama 35 tahun masa Orde Baru tentu tidak ada wartawan yang berani mewawancarainya. Kedua, dia memang jarang bergaul di depan umum. Ini karena sepanjang hidupnya dulu dia hampir selalu berada di penjara. Kalau toh waktu itu sedang di luar penjara, dia tidak berani menggunakan nama aslinya.

Dan, 22 tahun terakhir, setelah keluar dari penjara, dia memilih tinggal di Sydney, yang membuatnya semakin jauh dari ingatan orang Indonesia. Apalagi, dia juga lantas menjadi warna negara Australia.

Tinggal dialah tokoh utama pertempuran Surabaya pada 1945 yang masih hidup. Yang menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan itu. Selama ini kita hanya menyanjung-nyanjung tokoh seperti Bung Tomo atau Roeslan Abdoelgani. Padahal, yang satu ini adalah ketuanya dua orang itu. Bahkan, Bung Tomo pernah minta kepada dia agar diselamatkan nyawanya. Yakni, ketika Bung Tomo ditangkap para pemuda karena dianggap melanggar disiplin perjuangan.

Dia yang kita bicarakan ini tentu tokoh yang amat terkenal kala itu. Namun, namanya tidak masuk buku sejarah. Bahkan, tidak pernah lagi disebut-sebut orang, entah sudah berapa puluh tahun. Namanya pendek: Soemarsono. Bisa dipanggil Marsono, Mar, atau bahkan Son saja.

Dia juga pernah punya banyak nama samaran: Samio dengan pangkat sersan atau Setia dengan pekerjaan guru. Bergantung pada siapa yang sedang menangkapnya. Dia sendiri secara resmi pernah punya pangkat mayor jenderal (tituler) yang diberikan oleh Bung Karno.

Begitu mendengar bahwa orang ini masih hidup, saya langsung berusaha mencari dan menemuinya. Awalnya tentu saya harus mencari orang yang tahu alamat lengkapnya di Sydney. Saya bertekad ingin ke sana khusus untuk menemuinya. Tapi, ketika saya sedang menelusuri alamatnya itu, saya mendengar selentingan bahwa dia lagi di Jakarta. Lagi menengok anaknya.

Saya pun bergegas ke Jakarta pekan lalu. Sebelum Marsono keburu balik ke Sydney. Pagi itu juga saya bisa diterima di rumah anaknya di bilangan Bintaro. Salah satu dari enam anaknya memang tinggal di perumahan kelas menengah itu. Putrinya ini seorang dokter gigi yang kawin dengan seorang fund manager. Dialah anak yang praktis dibesarkan hanya oleh ibunya, karena sang ayah lebih banyak ''sibuk'' masuk penjara.

Hampir lima jam saya bicara dengan Soemarsono. Tentu, saya menanyakan banyak hal. Mulai pertempuran Surabaya sampai ke soal Peristiwa Madiun yang menewaskan banyak sekali keluarga saya. Ya! Soemarsono juga tokoh utama dalam Peristiwa Madiun 1948 yang amat terkenal itu. Jabatannya dalam struktur pemerintahan yang dipimpin Musso dan Amir Syarifudin itu sangat tinggi: gubernur militer. Dalam kesempatan lain saya akan menulis khusus mengenai bagaimana Soemarsono memimpin peristiwa Madiun kala itu.

Soal pertempuran Surabaya sendiri dia masih ingat sampai ke soal detail-detailnya. Penjelasannya sangat rinci, dengan warna-warna yang kaya dan tanpa pretensi agar dia diakui sebagai pahlawan utama pertempuran Surabaya. ''Saya tidak ingin ada orang yang dipahlawankan dalam pertempuran Surabaya itu,'' kata Soemarsono ketika saya tanya mengapa dia tidak mau menonjolkan diri. ''Pahlawan sebenarnya adalah rakyat,'' tambahnya.

Tapi, mengapa Bung Tomo begitu populer sebagai tokoh pertempuran Surabaya? Soemarsono ternyata memiliki jawaban yang belum pernah saya dengar selama ini. Jawabannya ini juga tidak pernah diucapkan oleh siapa pun selama ini. ''Itu karena dia terus mengobarkan semangat rakyat lewat radio,'' ujar Soemarsono. ''Itu dia lakukan sebagai tugas karena dia memang menjabat ketua bidang penerangan di PRI,'' tambahnya.

PRI adalah singkatan Pemuda Republik Indonesia, sebuah organisasi yang menghimpun hampir seluruh kekuatan pemuda di Surabaya. Soemarsonolah ketua PRI itu.

Ketika Bung Tomo membakar semangat kepahlawanan arek-arek Soroboyo melalui radio, Soemarsono sebagai ketua PRI terus menggerakkan rakyat di lapangan. Membakar semangat yang sama dari kampung ke kampung. Kalau istilah sekarang, Bung Tomo yang melakukan serangan udara dan Soemarsono yang menggelar serangan darat.

Selama ini, sesuai dengan yang ditulis di buku-buku, kita mengenal Bung Tomo sebagai ketua BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia). Bukan sebagai bagian penerangan PRI. ''Benar,'' kata Soemarsono. ''Tapi, itu belakangan. Setelah dia semakin terkenal, kemudian dia mendirikan BPRI. BPRI itu berdiri belakangan,'' ujarnya.

Bahkan, menurut Soemarsono, tindakannya mendirikan BPRI itu sempat menjadi masalah. Membuat tokoh-tokoh pemuda Surabaya marah. Bung Tomo dianggap berusaha memecah belah kekuatan pemuda Surabaya.

Bung Tomo, kata Soemarsono, lantas ditangkap oleh pemuda-pemuda beringas itu. ''Lalu dibawa ke saya dengan maksud agar saya menjatuhkan hukuman kepadanya,'' kata Soemarsono.

''Begitu tiba di rumah saya, Bung Tomo langsung duduk jongkok di depan saya. Minta nyawanya diselamatkan,'' tambah Soemarsono. Kisah ini benar-benar baru bagi saya.

Saat itulah Soemarsono berusaha menenangkan para pemuda itu. Dia menjelaskan bahwa Bung Tomo tidak menyalahi aturan. Pendirian BPRI justru bisa menampung pemuda-pemuda yang masih di luar PRI, seperti tukang-tukang becak.

Para pemuda beringas tersebut ternyata bisa menerima penjelasan Soemarsono. Bahkan, Soemarsono menyatakan bahwa Bung Tomo tetap sebagai ketua bidang penerangan PRI dan sekaligus diperbolehkan menjadi ketua BPRI. Maka, tidak ada lagi yang mencurigai Bung Tomo sebagai orang yang bergerak sendiri.

PRI sendiri didirikan pada 21 September 1945. Kurang dari dua bulan sebelum pertempuran 10 November Surabaya. Yakni, ketika hampir semua organisasi pemuda saat itu menyatakan meleburkan diri ke dalam PRI. Beberapa tokoh, seperti Soemarsono, Roeslan Widjajasastra, dan Bambang Kaslan menjadi pimpinannya, namun belum ada ketuanya.

Dua hari kemudian ada rapat AMI (Angkatan Muda Indonesia) yang diketuai Roeslan Abdoelgani di gedung GNI, Jalan Bubutan. Dalam rapat yang juga dihadiri seluruh eksponen pemuda Surabaya inilah Roeslan Abdoelgani mengundurkan diri. Dan, yang lebih penting, dia minta forum itu memilih Soemarsono sebagai ketua PRI. Maka, hari itu Soemarsono terpilih secara aklamasi. ''Saya sudah terlalu tua untuk memimpin organisasi pemuda ini,'' ujar Roeslan Abdoelgani seperti ditirukan Soemarsono.

PRI memilih bermarkas di sebuah bangunan kecil di Jalan Wilhelminalaan. Hari itu juga papan nama jalan tersebut langsung mereka ganti dengan Jalan Merdeka (sekarang dikenal dengan nama Jalan Widodaren). Belakangan markas PRI pindah ke Hotel Simpang yang jauh lebih besar.

''Roeslan Abdoelgani itu, menurut saya, mundur bukan karena merasa terlalu tua. Tapi, dia itu orangnya memang agak penakut,'' ujar Soemarsono seraya tersenyum. ''Kalau saya ini sudah sering bilang kepada istri bahwa saya bisa sewaktu-waktu mati. Harus diikhlaskan,'' tambahnya.

Baca lanjutannya :

Diolah dari  : andreasharsono.blogspot.com



Baca juga artikel ini :


Baca Selengkapnya

Copyright © 2009 - Blog S.Nainggolan - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template